Rabu, 05 Desember 2012

Bidadari Pencari Surga



Oleh : Indra Kurniawan

Jilbab besar terurai lebar tanda kehormatannya, pandangannya yang terjaga tanda ketawadukannya, dan suara yang lembut dijaganya demi menghindari fitnah. Dia adalah bidadari pencari surga, hatinya tertambat pada cinta ilahi rabbi dan balutan akhlaqul karimah menambah sempurna keanggunannya.
Mukmin(nah) yang paling sempurna adalah yang paling baik akhlaqnya”[HR. Abud Daud no : 3682].

Bidadari surga, hari-harinya tak pernah merasa gundah, karena hatinya selalu terobati dengan hikmah-hikmah yang ia dapat dari bacaan al qur’an yang dihafalnya.
Bidadari pencari surga, tutur katanya penuh kelembutan melahirkan kasih sayang kepada sesama. Tak pernah keluar darinya kata-kata kotor penuh dengan hujatan.  Pujian dan sanjungan menjadikan indah setiap ucapan yang keluar dari kedua bibirnya.

sesungguhnya dalam dirimu ada dua sifat yang Alloh sukai, yakni sifat santun dan tidak tergesa-gesa”[HR. Abu Daud no : 5225].

Senantiasa basah kedua bibirnya lantaran berdzikir kepada Alloh, atau diam membisu sesaat ketika memahami ayat-ayat Alloh yang terpampang luas di hadapannya(keindahan alam).
Siapakah dia? Bidadari pencari surga, kuat hujjahnya lantaran buku adalah teman dalam kesepiannya, al qur’an dan hadits adalah penghibur kesedihannya, dan teman yang baik adalah penambah gairah ibadahnya, kemudian sabar dan sholat adalah penyejuk sekaligus penolong bagi dirinya.

Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. dan Sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu',(yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya”[al baqarah ayat : 45-46].

Ia selalu tersenyum menatap masa depan, karena dalam hatinya tertanam aqidah yang kuat, bahwa hidup ini dalam genggaman  Alloh subhanahu wata’ala.

Wanita pilihan adalah bidadari pencari surga, dekapan hangat orang tua membentuknya menjadi pribadi yang bersahaja, petuah ulama menjadikannya pribadi tawaduk dan pesan ustad/ah menjadikannya kuat dalam menjalani hidup. Alangkah bahagia ia(bidadari pencari surga) hidupnya terbingkai indah oleh ibadah, ridlo Alloh Ta’ala adalah harapannya, cinta Alloh subhanahu wata’ala adalah kerinduannya, bertemu wajah Alloh subhanahu wata’ala adalah akhir dari mulianya cita-cita, Ia korbankan jiwa raganya untuk semua itu, melebihi Rabi’ah al adawiyah[tokoh sufi dari kalangan wanita] sang pencari cinta ilahi.

Engkau adalah bidadari pencari surga, engaku berletih demi persembahan terbaiknya(ibadah) hari-harinya dilalui dengan amalan yang mampu mendatangkan cinta ilahi rabbi, Alloh Sang Pemilik Cinta. Dijaganya kehormatannya demi gelar bidadari surga. Ia tidak silau dengan gemerlap mutiara-mutiara dunia. Keteguhannya dalam onak dan duri pengabdian menempa jiwanya menjadi pribadi yang istiqomah. Zaman yang terus menggilas waktu tak mampu merayunya, meluluhkan keyakinannya demi candu dunia yang kenikmatannya sesaat. Engkaulah bidadari pencari surga.

Engkau seperti kelopak bagi bunga, yang tanpanya ia(bunga) takkan indah. layaknya permata, yang tanpanya cincin tak tampak kemilaunya. Bagaikan hembusan angin bagi setiap ranting pohon, tanpanya ia(ranting pohon) takkan meliuk di setiap dahan. Bidadari surga, orang tua mana yang tidak bangga memilikimu. Engkau bagiakan mawar yang mekar ketika terbitnya fajar dan wanginya semerbak di setiap taman. Siapa yang takkan terpesona melihatnya. Adakah bidadari pencari surge zaman ini?

Sungguh, zaman memaksa para wanita berdandan layaknya para artis di sinetron - sinetron, foto model yang terpampang di halaman depan majalah dan Koran, perilakunya seperti penyanyi group band yang lagunya menjadi hits di radio dan televisi. Agama hanyalah pelengkap identitas di KTP nya. Ia terjebak dalam cinta yang penuh kamulfase, cinta berbalut kemunafikan, cintanya orang-orang yang berjiwa “pengecut”. Naudzubillah, inikah mereka yang disebut bidadari surga? Tentu tidak!...

Menyedihkan, kehormatannya tergadai demi model rambut trend masa kini, auratnya diumbar demi memuaskan mata-mata jalang hidung belang, suaranya yang merdu diobral sebagai pelepas dahaga orang yang haus akan hiburan. Seperti itukah bidadari pencari surga? Bukan, bukan seperti itu saudariku yang dirahmati Alloh.

Taubat adalah pembersih karat-karat dosa yang melekat pada dinding hatimu dan iringan amal sholih akan memperindahnya. Jiwa-jiwa yang lapang akan ketetapan taqdir penguat langkahnya(menapaki ujian hidup) dan ilmu akan mengokohkannya. Teman dekatnya adalah alqur’an, sahabat karibnya adalah saudara sesama muslim yang sholihah.

bertaqwalah kepada Alloh di manapun kamu berada, ikutilah perbuatan buruk dengan perbuatan baik, niscaya perbuatan yang baik akan menghapusnya, dan pergaulilah manusia dengan akhlaq yang baik”[HR. Tirmidzi no: 1987].

Semoga, zaman tidak menggilas mereka para bidadari pencari surga, akan tetapi justru memperkokoh jiwa mereka, karena demikian(zaman) adalah sarana Alloh subhanahu wata’ala dalam rangka menguji mereka demi peningkatan kualitas ketaatan.

Untukmu wahai para santriku, apakah kalian bidadari pencari surga itu?...

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar